Sabtu, 08 Juni 2013

ANALISIS PENGARUH JUMLAH MODAL TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK. PERIODE 2007-2011

ANALISIS PENGARUH JUMLAH MODAL TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK. PERIODE 2007-2011.

ABSTRAKSI

Modal memiliki peranan terpenting dalam suatu perusahaan, sehingga modal memiliki arti yang lebih utama. Masalah modal pada suatu bank ialah permasalahan yang tidak ada hentinya karena modal menyangkut banyak aspek. Jumlah modal yang diperoleh bank dapat mempengaruhi tingkat keuntungan yang didapat. Kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan dapat dilihat dengan menggunakan lima rasio profitabilitas yang digunakan oleh bank-bank yang berada di Indonesia. lima rasio tersebut adalah rasio Profit Margin, Assets Utilization, Return on Asset, Equity Multiplier, dan Return on Equity.                        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dalam memperoleh keuntungan pada periode 2007-2011, dan untuk mengetahui apakah jumlah modal berpengaruh terhadap tingkat keuntungan (Laba bersih) dan berapa besar pengaruhnya. Kemampuan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dalam memperoleh keuntungan pada  tahun 2007-2011 cukup baik hal ini dapat dibuktikan dengan terjadi kenaikan pada kelima rasio profitabilitas dan kenaikan laba bersih yang diperoleh. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan software SPSS 17  dapat disimpulkan bahwa jumlah modal dan laba bersih memiliki hubungan yang signifikandan mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap laba bersih. Hal ini disebabkan oleh nilai signifikan < 0,05 maka Ho ditolak. sedangkan hasil persentase pengaruh modal terhadap laba bersih yaitu sebesar 0,814 atau sebesar 81,4% (dalam persentase). Hal ini dapat menjelaskan mengapa modal mempunyai hubungan yang signifikan terhadap laba bersih, karena jumlah modal mempengaruhi laba bersih sebesar 81,4%, sedangkan sisanya 18,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.                           

Kata Kunci: Pengaruh Jumlah Modal, Laba Bersih


PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Perusahaan terbentuk atas kesepakatan dari beberapa pihak yang ingin bergabung untuk mendirikan sebuah perusahaan. Perusahaan memilki tujuan utama yaitu untuk memperoleh keuntungan, baik untuk semua jenis perusahaan dagang, manufaktur, ataupun jasa. Jenis perusahaan yang memperoleh keuntungan atau laba salah satunya adalah jenis perusahaan jasa, seperti usaha pada perusahaan jasa untuk memperoleh laba yaitu dengan cara menanamkan modal dan menginvestasikan sebagian modal yang menganggur guna memperoleh  keuntungan yang lebih besar pada perusahaan untuk dimasa yang akan datang.
Penanaman modal atau menginvestasikan sebagian harta sangat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan yang diperoleh perusahaan. Keuntungan yang diperoleh akan berdampak positif bagi kelangsungan kinerja suatu perusahaan pada masa yang akan datang.
Perusahaan terbentuk karena adanya  modal yang dimiliki. Peranan modal sangat penting untuk menjalankan suatu perusahaan hingga berkembang dengan pesat, karena dengan adanya modal yang besar perusahaan  juga akan  memperoleh laba yang cukup tinggi. Modal bisa diartikan sebagai suatu pokok permasalahan pada semua perusahaan yang tidak akan pernah berakhir karena menyangkut berbagai aspek yang menentukan  kemajuan  perusahaan.

2.      Metode Penelitian                                                                                         
Dalam menyusun penulisan ini, penulis mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai bahan penulisan ilmiah sebagai berikut:          
a.      Objek Penelitian
Penulis menggunakan objek penelitian yang akan diteliti, yaitu pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang beralamatkan di Jl. Gajah Mada No. 1 Jakarta 10130.                                                                     
b.      Data  / Variabel yang digunakan 
Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder yang berupa laporan keuangan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, yaitu Laporan Neraca dan laporan Laba Rugi selama lima tahun terakhir pada periode tahun 2007-2011 dan variabel yang digunakan adalah variabel bebas, yaitu modal sedangkan variabel terikat yaitu laba bersih. Yang dihitung dengan menggunakan lima rasio profitabilitas yang digunakan oleh bank pada umumnya.
3.      Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data serta keterangan yang diperlukan, maka dibutuhkan beberapa teknik pengumpulan data. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui teknik yang dipergunakan dalam upaya memperoleh data dalam penulisan ilmiah ini.
 Adapun metode yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data perusahaan dengan menggunakan penelitian kepustakaan dengan membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan objek penelitian ditambah  dengan bahan kuliah yang didapat selama masa perkuliahan, dan sumber-sumber lain yang mendukung pada materi peneltian ini. Serta data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa neraca dan laporan laba/rugi PT. Bank Tabungan Negara (persero) Tbk periode tahun 2007-2011, dan data tersebut diperoleh dari www.btn.co.id .
4. Alat Analisis Yang Digunakan
         Dalam penelitian ini digunakan kombinasi analisis data, yaitu analisis data deskriptif dan analisis data kuantitatif. Analisis data deskriptif dengan menganalisis rasio bank dalam memperoleh keuntungan dengan alat bantu berupa tabel hasil olahan PM, AU, ROA, EM, ROE, serta membuat berbagai kesimpulan terhadap sekumpulan data yang berasal dari suatu sampel. Variabel adalah suatu konsep yang beragam atau bervariasi. Ada dua variable yang akan diteliti, yaitu variabel bebas atau independen untuk jumlah modal dan variabel terikat atau dependen untuk laba bersih. Variabel bebas atau independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain yang sifatnya berdiri sendiri. Sedangkan variabel terikat atau dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain yang sifatnya tidak dapat berdiri sendiri. Kedua variabel tersebut akan diuji dengan teknik uji regresi linier sederhana. Dengan software SPSS Versi 17. Namun sebelum dilakukan uji regresi tersebut harus dilakukan uji normalitas yang terbagi dalam uji skewness dan kurtosis. Jika data yang dianalisis terdistribusi secara normal, maka dapat dilanjutkan dengan uji korelasi pearson.
Uji Normalitas Data                                     
        Syarat yang harus dipenuhi agar data terdistribusi secara normal antara lain:                                                                                


  1. Rasio Skewness berada pada interval -2 sampai dengan +2
  2.  Rasio kurtosis berada pada interval -2 sampai dengan +2                   
           Apabila salah satu syarat tidak terpenuhi maka data tersebut tidak terdistribusi normal.                                                
Uji Korelasi Pearson                                                
           Syarat dalam melakukan uji ini adalah data harus terdistribusi normal, jika sudah terdistribusi normal maka dilakukan uji korelasi pearson. Menurut Elcom (2010, 135), Uji korelasi pearson digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya kaitan antar gejala (dalam statistik disebut variabel), dapat menggunakan analisis korelasi. Analisis korelasi dengan analisis regresi memiliki keterkaitan. Jika suatu variabel mempunyai hubungan antarvariabel, variabel-variabel tersebut juga tidak dapat digunakan untuk memprediksikan keadaan suatu variabel, dan alat yang tepat untuk mempertimbangkan variabel-variabel tersebut ialah rata-rata hitung. Dengan kata lain, uji analisis regresi hanya dapat atau hanya perlu dilakukan bila telah diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antar variabel yang bersangkutan.           
         Menurut Priyatno (2010,22) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi dalam menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:              
0,00 – 0,199    = Sangat lemah                         
0,20 – 0,399    = Lemah                                             
0,40 – 0,599    = Sedang                                            
0,60 – 0,799    = Kuat                                          
  0,80 – 1000   = Sangat kuat                         
Analisis Regresi Linier                                                          
           Menurut Elcom (2010, 135), Uji analisis regresi linier digunakan untuk mengetahui apakah suatu variabel dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramal variabel-variabel lain. Bila suatu variabel tidak bebas tergantung pada satu variabel bebas, maka hubungan antara kedua variabel disebut analisis regresi sederhana. Untuk melakukan uji analisis regresi linier, dapat dilakukan dengan syarat:                                                              


  1. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh  antara modal terhadap laba bersih atau tidak terdapat pengaruh antara modal terhadap laba bersih.          
  2. Syarat pengambilan keputusan:                                           
              Signifikan (Sig) > 0,05 maka tidak ada pengaruh  antara modal terhadap laba bersih. Signifikan (Sig) < 0,05 maka terdapat pengaruh antara modal terhadap laba bersih. 

PEMBAHASAN
Berikut ini merupakan rangkuman hasil penelitian yang terdiri dari tabel untuk analisis kelima indikator rasio profitabilitas :

Perkembangan Kelima Indikator Rasio Profitabilitas
Periode 2007-2011
Keterangan
2007
2008
Selisih
2008
2009
Selisih
PM
20,3 %
19,6%
0.7%
19,6%
19.0%
0,6%
AU
5,4%
4,9%
0,5%
4,9%
4,4%
0,5%
ROA
1,09%
0,96%
0,13%
0,96%
0,83%
0,13%
EM
1316,4%
1461,5%
145.1%
1461,5%
1071,4%
390,1%
ROE
14,4%
13,9%
0,5%
13,9%
8.98%
4,92%

Keterangan
2009
2010
Selisih
2010
2011
Selisih
PM
19.0%
23,6%
4,6%
23,6%
25.6%
2%
AU
4,4%
5,7%
1,3%
5,7%
4,9%
0,8%
ROA
0,83%
1,34%
0,51%
1,34%
1,26%
0,08%
EM
1071,4%
1060,7%
10,7%
1060,7%
1217,2%
156,5%
ROE
8.98%
14,2%
5,22%
14,2%
15,3%
1,1%
                                                                                               
Profit Margin dari kelima periode yang mengalami peningkatan terjadi pada tahun 2007, 2010, dan 2011. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari kegiatan operasi pokok bank yang cukup baik, sehingga laba yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasional memiliki profit margin yang tinggi. Sedangkan penurunan terjadi pada tahun 2008 dan 2009. Hal ini disebabkan oleh faktor kinerja bank yang kurang baik. Terjadi penurunan rasio pada tahun 2008-2009 disebabkan karena bank yang tidak mampu menghasilkan laba yang besar dari kegiatan operasi pokok pada bank, sehingga laba yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasional memiliki profit margin yang lebih rendah dari tahun – tahun lainnya.
Assets Utilization pada tahun 2007 dan 2010 mengalami peningkatan, disebabkan karena kualitas manajemen bank dalam memanfaatan asset bank yang dimiliki untuk memperoleh pendapatan bank,baik pendapatan operasional lebih besar daripada pengalokasian asset bank yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional bank. Sedangkan pada tahun 2008,2009, dan 2011 mengalami penurunan disebabkan oleh pengalokasian asset bank yang membiayai segala kegiatan operasional bank lebih besar daripada pendapatan operasional yang masuk, sehingga bank harus meningkatkan kinerjanya agar dapat meningkatkan laba.
Return On Asset pada tahun 2007,2010, dan 2011 mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena kinerja bank dalam mengelola asset dengan baik, sehingga dengan adanya peningkatan asset disetiap satu rupiahnya menghasilkan laba yang tinggi. Semakin besar presentasi ROA maka akan semakin baik  pula posisi bank dalam penggunaan asset. Sedangkan pada tahun 2008 dan 2009 mengalami penurunan, penyebabnya bukan karena menurunnya asset ataupun laba yang diperoleh. Terjadinya penurunan akibat bank yang tidak mampu mengelola asset, sehingga laba yang diperoleh pun hanya mengalami peningkatan yang kecil.
Equity Multiplier yang terjadi pada Bank BTN mengalami fluktuatif disetiap tahunnya. Pada tahun 2009 dan 2010 mengalami penurunan yang disebabkan oleh banyaknya asset perusahaan yang didanai dari equity perusahaan, dengan jumlah kurang dari 10% nya total asset perusahaan yang ada. Sedangkan pada tahun 2007, 2008, dan 2011 mengalami peningkatan  karena jumlah asset perusahaan yang didanai dari equity perusahaan dengan jumlah equity lebih dari 10% asset  perusahaan. Jadi semakin besar rasio equity multiplier maka akan semakin baik.
           Return On Equity pada tahun 2007, 2010, dan 2011 mengalami peningkatan disebabkan karena adanya peningkatan modal pada tahun tersebut yang tinggi, sehingga disetiap satu rupiah modal menghasilkan laba yang tinggi pula. Sedangkan pada tahun 2008 dan 2009 mengalami penurunan, penyebabnya bukan karena menurunya modal ataupun laba yang diperoleh, melainkan karena jumlah laba yang diperoleh  pada tahun tersebut meningkatnya tidak terlalu tinggi seperti tahun – tahun lainnya.
Secara keseluruhan kemampuan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dalam memperoleh keuntungan pada periode tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 cukup baik dapat dibuktikan dengan terjadi kenaikan rasio kelima indikator yaitu rasio profit margin, assets utilization, return on assets, equity multiplier dan return on equity. Pada bank BTN dalam periode lima tahun dapat dikatakan mengalami kenaikan setiap periode, walaupun terdapat penurunan yang signifikan pada tahun-tahun tertentu, tetapi penurunan ini tidak berlangsung lama, terbukti pada tahun berikutnya rasio bank mengalami peningkatan. Kenaikan yang terjadi dikarenakan usaha manajemen bank dalam mengevaluasi kegiatan operasionalnya sehingga terus mengalami peningkatan.
Untuk mengetahui pengaruh jumlah modal terhadap tingkat keuntungan yaitu dengan menggunakan Uji Korelasi Pearson. Melalui Uji Korelasi Pearson disimpulkan bahwa modal memiliki hubungan yang signifikan dan kuat searah terhadap laba bersih. Hal ini disebabkan oleh nilai signifikan yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,001. Selain itu dapat ditampilkan juga hasil persentase pengaruh modal terhadap laba bersih yaitu sebesar 0,814 atau sebesar 81,4% (dalam persentase). Hal ini dapat menjelaskan mengapa modal mempunyai hubungan yang signifikan terhadap laba bersih, karena jumlah modal mempengaruhi laba bersih sebesar 81,4%, sedangkan sisanya 18,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
B.     Perhitungan Pengaruh Jumlah Modal Terhadap Tingkat Keuntungan
Perhitungan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh Modal terhadap Laba Bersih dengan menggunakan software SPSS 17, berikut adalah hasil dari pengujian yang telah dilakukan

      Analisis Regresi Linier Sederhana

Tabel 4.11
Hasil Uji Determinasi
                                                       Model Summaryb

Model
R
R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of the Estimate



1
       . 902a
         .814
.751
      1.62180E5


           Sumber: Data diproses dengan SPSS
           Berdasarkan tabel diatas diperoleh angka R² (R Square) sebesar 0,814 atau sebesar 81,4% (dalam persentase). Hal ini dapat dijelaskan bahwa pengaruh modal terhadap laba bersih sebesar 81,4% sedangkan sisanya 18,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

PENUTUP

Kesimpulan
Setelah dilakukan analisis terhadap laporan keuangan PT. Bank Tabungan Negara (persero) Tbk. Periode tahun 2007-2011 maka dapat disimpulkan:
1.            Rasio Profitabilitas secara keseluruhan yaitu kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih bersih yang dilihat dari  kelima indikator yaitu rasio profit margin, assets utilization, return on assets, equity multiplier dan return on equity dapat dikatakan bahwa PT. Bank Tabungan Negara (persero) Tbk cukup profitable, karena terbukti dari hasil persentase pengaruh modal terhadap laba bersih sebesar 81,4% dan  pada setiap rasio bank dalam periode lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan, walaupun terdapat penurunan pada tahun 2008 dan 2009, tetapi penurunan ini tidak berlangsung lama, terbukti pada tahun-tahun berikutnya kelima rasio bank mengalami peningkatan kembali. Kenaikan yang terjadi dikarenakan usaha manajemen bank dalam mengevaluasi kegiatan operasionalnya sehingga terus mengalami kenaikan.

2.        Berdasarkan analisis dengan menggunakan software SPSS 17 dapat disimpulkan bahwa modal memiliki hubungan yang signifikan dan kuat searah terhadap laba bersih. Hal ini disebabkan oleh nilai signifikan yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,018. Dalam olahan menggunakan software SPSS ditampilkan hasil persentase pengaruh modal terhadap laba bersih yaitu sebesar 0,814 atau sebesar 81,4% (dalam persentase). Hal ini dapat menjelaskan mengapa modal mempunyai hubungan yang signifikan terhadap laba bersih, karena jumlah modal mempengaruhi laba bersih sebesar 81,4%, sedangkan sisanya 18,6% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Tetapi dalam penelitian ini penulis melakukan sebuah pengamatan terhadap bank untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi laba dari 18,6% tersebut. Setelah dilakukan pengamatan, kemungkinan besar dari faktor lainnya adalah  Pelayanan yang diberikan kepada para nasabah,sehingga banyak masyarakat yang tertarik untuk menjadi nasabah bank Tabungan Negara, terbukti pada nasabah bank Tabungan Negara yang  tidak hanya dari kalangan atas saja melainkan mencakup kalangan menengah kebawah. Faktor lain yang mempengaruhi adalah bank selalu melakukan inovasi-inovasi baru terhadap produknya dan bank juga sering menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan dan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, sehingga semakin besar pula keuntungan yang akan didapat oleh bank Tabungan Negara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar